Rabu, 03 Juni 2009

Peradaban Islam di Persia

PENDAHULUAN

Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Menurut Koentjoroningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, (1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Peradaban dalam Islam, dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah, para sahabat (Khulafaur Rasyidin),dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang maju. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Islam memang berbeda dari agama-agama lain, sebagaimana pernah diungkapkan oleh H.A.R. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M.Natsir, bahwa, “Islam is andeed much more than a system of theology, it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya, sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Jadi, dalam islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi), agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan.
Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam sejarah Islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan, diantaranya berdirinya kerajaan-kerajaan-kerajaan Islam di Persia.

PEMBAHASAN

A. Awal Peradaban Islam di Persia
Peradaban Islam yang berasal dari buah usaha ahli fikir dan ilmu pengetahuan dari zaman kuno, ditambah dengan alam pikiran dan teori-teori pengetahuan orang-orang Islam di Persia dan India, menjadi semarak berkembang.
Persia muncul sebagai sebuah Negara Syia'ah di bawah Dinasti Safawi, Wangsa Mughul Akbar menegakkan pemerintahannya di India. Dengan ketiga dinasti ini masyarakan Islam memasuki zaman baru dan sejarahnya.
Sejarah Persia abad kesepuluh Hijriah, kecuali mengalami masa-masa peluasan semantara disekitar perbatasan-perbatasan Afghan dan asia Tengah, menjadi sejarah yang lama makin merupakan sejarah sebuah Negara Nasional bukan sejarah Islam. Jadi telah memperlihatkan tanda-tanda yang telah menjadi ciri negara-negara Islam sekarang.
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa perkembangan peradaban Islam baru bekembang di Persia sejak dinasti Abbasyiah di Baghdad mengalami kemunduran dan munculnya Dinasti-dinasti baru. Namun demikian, perkembangan peradaban Islam kala itu masih sebatas permulaan. Sejatinya, perkembangan peradaban Islam di Persia dimulai sejak berdirinya kerajaan Safawi yang dipelopori oleh Safi al-Din yang hidup sejak tahun 1252 hingga 1334 M. Kerajaan ini berdiri di saat kerajaan Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh Ismail. Ia berkuasa kurang lebih selama 23 tahun, yakni antara tahun 1501 sampai 1524 M.
Kerajaan Safawi itu sendiri berasal dari sebuah gerakan tarekat bernama Safawiyah yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat Safawiyah ini didirikan bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani di Turki. Hingga di masa perkembangannya, nama Safawi ini terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik.
Sebagai pendiri kerajaan, Safi al-Din dikenal sebagai pribadi yang agamis. Ia merupakan keturunan Musa al-Kazhim yang terkenal sebagai imam Syi’ah yang keenam. Setelah ia berguru dengan Syaikh Taj al-Din Ibrahim Zahidi dan menjadi menantunya, ia mendirikan tarekat Safawiyah pada tahun 1301 M. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan untuk memerangi orang-orang ingkar dan golongan Ahl al-Bid’aH Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi al-Din menempatkan seorang wakil yang diberi gelar Khalifah untuk memimpin murid-murid di daerahnya masing-masing.

B. Proses Perkembangan Peradaban Islam di Persia
Peradaban Islam di Persia berkembang cukup cepat. Hal ini ditandai dengan mulai meluasnya daerah kekuasaan pada masa kepemerintahan Abbas I yang menjadi raja kelima dari dinasti Safawi. Meskipun pada masa pemerintahannya sering terjadi perebutan daerah kekuasaan dengan kerajaan Turki Usmani yang notabenenya sebagai sesama kerajaan Islam, namun pada masa pemerintahannya inilah, perkembangan peradaban Islam mulai berkembang pesat.
Ahmad al-Santanawi mengungkapkan bahwa perkembangan peradaban Islam di Persia diawali dengan penunjukkan kota Isfahan sebagai Ibu kota kerajaan Safawi pada saat Abbas I menjadi penguasa kerajaan Safawi. Kota ini merupakan gabungan dari dua kota sebelumnya, yakni Jayy dan Yahudiyyah yang didirikan oleh Buchtanashshar atau Yazdajir I atas anjuran istrinya yang beragama Yahudi.
Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan kota ini masuk dalam wilayah Islam. Pemdapat pertama mengatakan bahwa penaklukkan kota ini terjadi pada tahun 19 H atas perintah khalifah Umar Ibn Khattab. Sedangkan pendapat kedua yang beraliran Bashrah menyebutkan bahwa kota ini ditaklukkan pada tahun 23 H di bawah pimpinan Abu Musa al-Asy’ari. Namun terlepas dari kedua perbedaan di atas, al-Santanawi menyatakan bahwa Isfahan menjadi kota penting sebagai pusat industri dan perdagangan setelah penaklukkan kedua terjadi pada masa dinasti Abbasiyyah.
Dengan demikian, peradaban Islam di Persia mulai berkembang pesat setelah kota Isfahan berhasil ditaklukkan oleh bala tentara Dinasti Abbasiyyah untuk yang kedua kalinya. Berangkat dari fakta ini, dapat disimpulkan bahwa proses perkembangan peradaban Islam di Persia dilakukan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan.

C. Kawasan Teluk Persia
Di wilayah Teluk Persia terdapat beberapa kekuasaan, yakni Oman, Uni Emirat Arab,Bahrain, Qatar dan Kuait. Oman dahulinya mempunyai jaringan perdagangan dengan Dinasti Sasaniyah lewat Teluk Persia. Kemudian ditundukan oleh islam dan menjadi wilayah kekuasaan aliran Khwarij. Oman diperintah oleh dinasti Bu Sa'idiyah dan pernah menguasai bagian timur pantai Afrika hingga Zanzibar.
Kuwait adalah salah satu negeri kecil kaya minyak, mempumyai perkembangan tersendiri. Tahun 1752 Sultan Sabah ibn Jabir dari Bani 'Utub memerintah Kuwat untuk pertama kali. Dinasti tersebut memerintah hingga kini. Kuwait dianggap sebagai wilayah Irak, sehingga Sadam Husain, Presiden Irak menyerbunya dan dijadikan bagian provinsinya tahun 1991. Namun, negeri itu dikembalikan lagi seperti semula atas bantuan sekutu.
Bahrain adalah wilayah di kawasan teluk yang kaya akan minyak pula. Negeri itu dipimpin oleh keluarga al-khalifah sejak tahun 1782. mereka membuat konstitusi tahun 1973, dan kepala Negara dipegang oleh Amir. Uni Emerat Arab merupakan kesatuan kerajaan-kerajaan kecil yang di wilayah teluk, yakni kerajaan Abu Dabi, Dubai, Sarjah, Ajman, Umul Qaiwain, Fujairah, dan Rasul Khaimah. Sedangkan Qatar memiliki pemerintahan sendiri, dan merupakan negara yang kaya pula akan minyak.

D. Kemajuan Peradaban Islam di Persia
Sebagaimana diketahui bahwa antara kebudayaan dan peradaban memiliki arti yang hampir sama. Namun dari kesamaan arti tersebut terdapat perbedaan dalam hal perwujudannya. Kebudayaan lebih diwujudkan dalam hal seni, sastra, religi dan moral. Sedangkan peradaban lebih diwujudkan dalam hal politik, ekonomi dan teknologi. Demikian juga dengan kemajuan peradaban Islam di Persia.
Keberhasilan raja Abbas I dalam merebut kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya menjadi tolak ukur kemajuan peradaban Islam di Persia khususnya dalam bidang politik. Selain kemajuan di bidang politik, raja Abbas I juga telah membawa peradaban Islam menuju masa keemasan di bidang yang lainnya seperti ekonomi, ilmu pengetahuan dan pembangunan.
Di bidang ekonomi, raja Abbas I berhasil mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pusat perdagangan yang berada pada jalur penghubung antara Timur dan Barat. Sebelum dikuasai sepenuhnya oleh kerajaan Safawi, pelabuhan ini pernah diperebutkan oleh Belanda, Inggris dan Perancis. Di samping itu, raja Abbas I juga berhasil menjadikan daerah Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent) sebagai daerah yang maju di sektor pertanian.
Sedangkan di dunia IPTEK, Persia masa itu berhasil melahirkan ilmuwan-ilmuwan handal seperti Baha al-Din al-Syaerazi, Sadar al-Din al-Syaerazi (filosof) dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. Mereka inilah yang selalu hadir di majlis istana untuk mengisi setiap kajian yang diadakan di sana. Pada masa ini, Persia bisa dikatakan lebih maju jika dibandingkan dengan daerah dari kerajaan lain pada masa yang sama.
Pada masa kejayaan inilah, kota Isfahan yang menjadi pusat perkembangan peradaban Islam dihiasi dengan bangunan-bangunan berarsitektur tinggi. Hal ini bisa dilihat pada arsitektur masjid Syah yang dibangun pada tahun 1611 M. Pada pintu masjid ini terdapat lapisan perak yang membuat masjid ini terlihat begitu megah. Selain itu, di komplek salah satu masjid terindah di dunia ini terdapat lapangan serta taman yang masih terawat hingga sekarang. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 Masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum.

E. Kebudayaan Persia
Pesatnya perkembangan kebudayan Persia di zaman ini karena ada dua faktor:
1. Pembentukan lembaga wizarah
Umumnya yang menjadi wazir adalah orang-orang yang berketurunan Persia. Kedudukan wazir sangat penting, karena wazir mewakili khalifah dalam segala urusan Negara. Kesempatan ini digunakan sebaik-sebaiknya oleh wazir untuk jabatan-jabatan penting dengan orang-orang turunan Persia. Mereka inilah yang memasukan unsur kebudayaan Persia kedalam kebudayaan Islam.
2. Pemindahan Ibu Kota Negara
Pemindahan ibu kota negara dari Damaskus ke Bagdada yang terletak dalam bekas daerah jajihan Persia kota Bagdad disini oleh berbagai unsur bangsa.

Adapun yang menyebabkan kebudayaan Persia menjadi salah satu unsur dari kebudayaan Islam, yaitu:
a. Perbendaharan kota
Bangsa Persia yang telah mencapai kemajuan sejak berabad-abad, memeiliki perbendaharaan kota yang kaya. Pada Islam telah mencapai Tamadun, maka banyaklah kota-kota dan istilah bahasa Persia yang dialihkan kedalam bahasa Arab.

b. Ilmu pengetahuan
Sejak lama bangsa Persia telah banyak mempunyai bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan. Para pembesar negara yang kebanyakan terdiri dari unsur Persia, dimana mereka masih memeluk kebangsaan Persia, menganjurkan para ahli budaya untuk mengalirkan unsure kebudayaan mereka kedalam bahasa Arab.
c. Para sarjana
Para sarjana Islam dalam zaman ini, kebanyakan bukan orang Arab. Dan turunan Persia-lah yang memegang peranan penting dalam dunia ilmu.
d. Jejak dalam kebudayaan Arab.
Sejak lama kebudayaan Persia telah meninggalkan jejaknya dalam tubuh kebudayaan Arab, sedangkan kebudayaan Arab menjadi salah satu unsur dari tubuh kebudayaan Islam.

F. Beberapa Pusat Kegiatan
Kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam tidak mungkin dipisahkan dari tradisi intelektual peradaban-peradaban terdahulu yang telah maju sebelum dan menjelang munculnya Islam. Kalau dalam Islam perkembangan ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya sekitar abad ke-2/8 – abad ke-6/12, maka jauh sebelumnya bangsa Yunani, India, China, Tibet, Mesir dan Persia telah mengembangkan tradisi ilmiyhnya sendiri-sendiri. Secara historis peradaban Islam adalah pewaris yang kemudian melakukan sistesis dan penyempurnaan atas pengetahuan peradaban-peradaban kuno tersebut.

G. Kontak dan Dampak
Di awal abat ke 7 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW memulai misinya di negeri Arab, seluruh pantai laut Tengah merupakan bagian dari dunia masyarakat Kristen. Sepanjan Eropa, Asia, dan pantai Afrika Utara ditinggali penduduk yang beragama Kristen dari berbagai sekte. Hanya dua agama lain di dunia Romawi-Yunani yahudi dan Manichaeism, yang bertahan dan dianut oleh sebagian kecil penduduk di sana.
Namun dalam beberapa dekade setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, para pengikutnya telah tersebar, membludak jauh dari jazirah Arab, menyusup ke Bizantium dan Persia, dua kerajaan yang bersebelahan dengan Timur Tengah disisi kiri dan kanan.
Ketika pemerintahan Khalifah Umar terjadi pertempuran besar di Nehawan pada tahun 641 M. Orang-orang Persia jauh lebih besar dibanding orang-orang Islam yaitu 6 berbanding 1. Hampir 30.000 orang Persia terbunuh dalam pertempuran ini. Setelah pertempuran ini orang-orang Persia tidak pernah pilih kembali. Orang-orang Arab menamakan kemenangan ini dengan “Kemenangan dari Segala Kemenangan”. Dengan denikian Persia menjadi wilayah kekuasaan Islam.
Pada mulannya hanya satu bahasa yang digunakan di kalangan muslim, yakni bahasa Arab. Bahasa Al-Quran dan bahasa para pahlawan penakluk dari negeri Arab. Bahasa Latin dan Yunani hampir seluruhnya terhapus. Sedangkan bahasa Kopten dan Syiriac bertahan sebagai bahasa peribadatan, namun bukan bahasa pergaulan kalangan Kristen minoritas.
Bahasa ini dapat dibedakan dari bahasa Persia Pra-Islam, seperti perbedaan bahasa Inggris dengan bahasa Anglo Sacon.pada masa bahasa Persia menjadi bahasa kebudayaan utama kedua dalam dunia Islam, bahasa tersebut telah digunakan di Asia Tengah, India, Turki dan tentunya di kemudian hari bahasa kaum Muslim muncul di Asia Selatan dan Tenggara, serta di Aprika Hitam. Sedangkan di pusat pemerintahan Islam dan pusat kebudayaan Islam masa silam di Asia Tengah, Asia Barat Laut, Afrika Utara dan Eropa, hanya ada tiga bahasa yang umum digunakan, yaitu bahasa Arab, bahasa Persia, dan bahasa Turki.
Orang Persia terpelajar hanya mengetahui bahasa Persia dan bahasa Arab. Bahasa Persia menjadi bahasa klasik, sedangkan bahasa Arab menjadi bahasa klasik sekaligus bahasa kitab, dan merupakan bagian terpenting dari pembentukan kalangan Muslim berpendidikan, lepas dari latar belakang etnik maupun bahasanya. Bahasa Persia sebagai mana bahasa lainnya yang digunakan kaum Muslimin, ditulis dalam huruf Arab dan menyerap perbendaharaan kata dari bahasa Arab.

PENUTUP

Simpulan
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa perkembangan peradaban Islam baru bekembang di Persia sejak dinasti Abbasyiah di Baghdad mengalami kemunduran dan munculnya Dinasti-dinasti baru. Namun demikian, perkembangan peradaban Islam kala itu masih sebatas permulaan. Sejatinya, perkembangan peradaban Islam di Persia dimulai sejak berdirinya kerajaan Safawi yang dipelopori oleh Safi al-Din yang hidup sejak tahun 1252 hingga 1334 M.
Peradaban Islam di Persia mulai berkembang pesat setelah kota Isfahan berhasil ditaklukkan oleh bala tentara Dinasti Abbasiyyah untuk yang kedua kalinya. Berangkat dari fakta ini, dapat disimpulkan bahwa proses perkembangan peradaban Islam di Persia dilakukan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan.
Pada mulannya hanya satu bahasa yang digunakan di kalangan muslim, yakni bahasa Arab. Bahasa Al-Quran dan bahasa para pahlawan penakluk dari negeri Arab.
Bahasa Latin dan Yunani hampir seluruhnya terhapus. Sedangkan bahasa Kopten dan Syiriac bertahan sebagai bahasa peribadatan, namun bukan bahasa pergaulan kalangan Kristen minoritas.
Adapun yang menyebabkan kebudayaan Persia menjadi salah satu unsur dari kebudayaan Islam, yaitu:
a. Perbendaharan kota
b. Ilmu pengetahuan
c. Para sarjana
d. Jejak dalam kebudayaan Arab





DAFTAR PUSTAKA

- Al-Santanawi, Ahmad. Dairat al-Ma’arif al-Islamiyyah. Jilid II..
- Al-Sharqawi, Effat. Filsafat Kebudayaan Islam. Bandung: Pustaka, 1986.
- Hamka. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, Jilid III, Cet. Keempat.
- Hasjmy, A. Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang, 1993. Cet. IV.
- Leweis, Bernard. Muslim Menemukan Eropa. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1988.
- Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dari Sejarahnya. Bandung: PT. Ramata Rosdakarya, 1988.
- Morgan, Kenneth W. Islam Jalan Lurus. Jakarta: Pustaka Jaya, 1980. Cet. II.
- Munawwir, Imam. Kebangkitan Islam dan Tantangan-tantangan yang Dihadapi dari Masa ke Masa. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1884. Cet. VI.
- Sayyed, Hossein Nasr. Science and civiliction in Islam. edisi ke-2, Cambridge: The Islamic Fexts Society, 1987.
- Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. XVI, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar